Pak Andigh

1. Buluh Ngikuk Sawi
Suatu hari, di pagi Jumat, Nduk Andigh berkata kepada Pak Andigh, “Pak Andigh! Cobalah kamu masuk hutan di bawah Jumat-an ini, carilah buluh untuk tengkalak”!
Seperti biasanya, kalau Nduk Andigh meminta apa-apa, pastilah dipenuhi oleh Pak Andigh. Sebelum Pak Andigh melangkah meninggalkan dangaw, Nduk Andigh berpesan, “Kalau mencari buluh untuk tengkalak, carilah buluh ngikuk sawi! “ya” jawab Pak Andigh sambil melangkah menuju hutan.
Di tiap rumpun buluh, Pak Andigh memperhatikan, kalau-kalau ada ekor burung sawi, karena pesan Nduk Andigh, supaya dicari buluh ngikuk sawi. Tentulah tidak ada buluh yang daunnya ekor burung sawi. Paling-paling yang ada, buluh yang dihinggapi burung sawi. Itu pun, kalau buluhnya ditebang, tentu burung sawinya terbang dan Pak Andigh tidak jadi menebang buluhnya.
Pulanglah Pak Andigh tanpa membawa buluh seruas pun. Heran dan marahlah Nduk Andigh.
Pak Andigh menjelaskan kepada Nduk Andigh, “Tidak ada buluh ekor sawi”. “Oi, Pak Andigh, kata Nduk Andigh. “Pak Andigh tingak, Pak Andigh bange!, arti buluh ngikuk sawi itu, buluh yang sudah cukup tua, daunnya sudah mulai mengering, selembar-selembar sudah berwarna coklat merah kehitaman seperti warna ekor burung sawi. Buluh yang seperti itu sudah cukup baik untuk dibuat tengkalak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: