PemerintahanDemokrasi Pertama di Indonesia

Lampik Mpat Mardike Duwe

Besemah, yang kini meliputi Kota Pagaralam, Kabupaten Lahat,, sebagian Kabupaten Empat Lawang, dan sebagian Kabupaten Muaraenim, Provinsi Sumatera Selatan, telah sejak lama memiliki lembaga adat, lembaga pemerintahan adat, yang sekaligus merupakan lembaga hukum atau lembaga peradilan dan lembaga perwakilan atau permusyawaratan yang sangat demokratis. Nama lembaga dimaksud adalah Lampik Mpat Mardike Duwe, yang kalau dialih-bahasakan menjadi “Lampik Empat Merdeka Dua”. Namun sebagai istilah hukum dan tidak boleh dialihbahasakan. Sama halnya dengan istilah Dalihan Na Tolu (Batak) dan Tigo Tungku Sejarangan (Minangkabau), tidak perlu dialihbahasa, cukup diberi keterangan atau penjelasan, diterangkan maknanya dengan bahasa yang dimengerti oleh umum.
Lampik Mpat Mardike Duwe sebagai lembaga, terdiri atas enam sumbay yang ada dalam Jagat Besemah. Enam sumbay itu adalah (1) Sumbay Ulu Lurah, (2) Sumbay Besak (3) Sumbay Mangku Anum, (4) Sumbay Tanjung Ghaye (Sumbay Pangkal Lurah, (5) Sumbay Penjalang, dan (6) Sumbay Semidang. Sumbay (1), (2), (3), dan (4) disebut “Lampik Mpat”; Sumbay (5) dan (6) disebut Mardike Duwe. Sebagai lembaga yang berasal dari dan untuk, serta milik bersama sumbay-sumbay dalam Jagat Besemah, tentu lembaga itu diisi dengan orang-orang atau tokoh-tokoh yang benar-benar mewakili sumbay masing-masing. Tokoh itu dikenal dengan sebutan juray-tuwe. Juray-tuwe adalah keturunan langsung dari pembangun dusun dengan kekuasaannya dalam urusan tanah selain pejabat yang bertugas sebagai kepala dusun (Ter Haar, 1960:69). Di Besemah, sebutan untuk kepala dusun adalah riye atau keriye. Juray-tuwe adalah pemangku adat dalam dusun. Selain Juray-tuwe dusun ada Juraytuwe Suku Juraytuwe Sumbay, dan Juraytuwe Jagat Besemah.
Juraytuwe sumbay adalah keturunan langsung dari puyang pembangun sumbay (puyang asal; common ancestor of group). Jadi, ada juray-tuwe Ulu Lurah, ada Juray-tuwe Sumbay Besak, ada Juray-tuwe Mangku Anum, ada Juray-tuwe Tanjung Ghaye (Pangkal Lurah), ada Juray-tuwe Penjalang, dan ada Juray-tuwe Semidang.
Para Juray-tuwe sumbay tersebut merupakan juray-tuwe di masing-masing dusun yang se-sumbay. Juray-tuwe sumbay Ulu Lurah adalah Juray-tuwe Jagat Besemah, yakni keturunan langsung dari puyang pembangun atau pendiri dinasti Besemah atau Puyang Menjadikan Jagat Besemah (Puyang Njadikah Jagat). Raden Atung Bungsu adalah pendiri sekaligus “raja” pertama Jagat Besemah, sebutannya adalah “ratu Jagat Besemah”.
Di dalam Jagat Besemah, semua ratu adalah laki-laki, sama halnya dengan juray-tuwe, selalu laki-laki sebagai konsekuensi dari sistem patrilinial Besemah. Dalam perkembangan selanjutnya, timbullah pola alternerend Besemah dan matrilinial Semende. Hal ini tergantung pada bentuk perkawinan yang dipilih. Lampik Mpat Mardie Duwe menjadi kabur sejak terjadinya kesepakatan merubuh sumbay di Besemah. Merubuh sumbay adalah meniadakan “larangan kawin se-sumbay”. Sebelumnya, di Jagat Besemah atau di kalangan masyarakat adat Besemah ada aturan yang melarang laki-laki mengawini perempuan yang sumbay-nya sama dengan dirinya. Laki-laki dari Sumbay Ulu Lurah, misalnya, harus mencari calon istri dari sumbay lainnya atau dari luar Besemah. Perempuan yang dikawini oleh orang luar Besemah, pada masa itu, menyebabkan anak-cucu atau keturunannya menjadi “orang luar”. Kemurnian sumbay-sumbay benar-benar terjamin. Sama halnya dengan terjaminnya kemurnian marga-marga Batak sampai saat ini.
Aturan demikian, dalam hukum adat disebut eksogami klan, yaitu larangan kawin dengan sama-sama anggota klan atau bagian-klan (sub-clan) (Ter Haar, 1960:18). Klan inilah yang di Besemah disebut sumbay (sebagai perbandingan di Tanah Batak disebut marga). Bagian-bagian atau sub-klan di Besemah di sebut suku. Dalam sukubangsa Besemah terdapat Sumbay Ulu Lurah Suku Benuakeling; Sumbay Ulu Lurah Suku Sawah-batuan; Sumbay Mangku Anum Suku Gunung-mesir; Sumbay Penjalang Suku Empayang Ulu, Sumbay Penjalang Suku Pangi, Sumbay Penjalang Suku Lingsing, Sumbay Penjalang Suku Empayang Ilir, dan sebagainya.
Pada masa lalu, dusun-dusun di Besemah dan di luar Tanah Besemah namun penduduknya berasal dari Besemah, seperti Semende, Kisam, Kedurang, Padang-guci, Kelam, Kinal, Luwas, dan Besemah Palas, masih jelas masuk ke sumbay masing-masing. Tetapi dengan terjadinya merubuh sumbay (1860-an), batasnya menjadi kabur dengan munculnya dusun-dusun teritorial akibat mobilitas penduduk dan modernisasi, ditambah lagi dengan adanya program transmigrasi. Akibat kaburnya batas sumbay, misalnya dusun A masuk ke sumbay yang mana atau dusun B termasuk ke sumbay apa?, maka Lampik Mpat Mardike Duwe pun menjadi kabur dalam ingatan dan pengertian para perangkat mude Besemah, walaupun sebenarnya kalau mau, dusun-dusun asli (dusun-dusun tua dan dusun-dusun alihan ) dapat dilacak sumbay-nya; masih dapat ditelusuri asal-usulnya, apa sumbay-nya dan siapa puyangnya?
Kapan mulai munculnya atau terbentuknya lembaga Lampik Mpat Mardike Duwe belum ditemukan sumber yang secara jelas menerangkan angka tahun. Namun dapat diperkirakan bahwa Lampik Mpat Mardike Duwe sudah mulai melembaga, setidak-tidaknya, semasa dengan pemerintahan Pangeran Sido ing Kenayan di Palembang, yakni pertengahan pertama abad ke-17. Menurut salah satu tokoh Besemah Kiaji Oemar dari dusun Perdipe, Lampik Mpat Mardike Duwe sebagai lembaga adat dibentuk pada tahun 1479. setelah itu pula baru muncul adat Semende sebagai pecahan dari adat Besemah yang sudah lama sekali ada.
Pangeran Sido ing Kenayan anak Kimas Adipati, memerintah di Palembang 1610-1619 Masehi (pada sumber lain, antaralain, Jalaluddin menyebutkan tahun 1639-1650). Istri Sido ing Kenayan adalah Ratu Sinuhun anak Nyai Gede ing Pembayun dengan kyai Temenggung Mancanegara Cirebon. Malah Ratu Sinuhun, permaisuri Pangeran Sido ing Kenayan, mengkodifikasi hukum pertama bagi wilayah kerajaannya di luar ibukota (Palembang), yang didasari butir-butir adat dalam Jagat Besemah, yaitu yang disebut Selimbur Caye (Simbur Cahaya), sehingga kodifikasi hukum hasil himpunan dan susunan Ratu Sinuhun itu disebut Undang-undang Simbur Cahaya. Orang Besemah yang telah lebih dulu memiliki Selimbur Caye itu, tetap menyebutnya dengan nama Kitap S(el)imbur Caye, artinya “Kitab S(el)imbur Cahaya”.
Pada masa kemunculan Kitap S(el)imbur Caye itu, jelas lembaga Lampik Mpat Mardike Duwe sudah ada sebagai lembaga penegak adat dan hukum adat, selain ratu sebagai kepala pemerintahan umum di pusat jagat (ibukota Jagat Besemah, Benuwakeling Lame). Semasa Pangeran Sido ing Kenayan dan Ratu Sinuhun di Palembang itu, di Besemah berkuasa Ratu Singe Bekurung, keturunan ke-9 dari Atung Bungsu. Menurut buku Penemuan Hari Jadi Kota Palembang, Pangeran Sido ing Kenayan Ratu Jamaluddin Mangkurat IV memerintah 1622-1635.
Ratu Singe Bekurung sebagai pucuk pimpinan Jagat Besemah, sekaligus sebagai juray-tuwe Jagat Besemah, didampingi antaralain oleh Depati Rimaw Gegas Tanjung Ghaye, menghadap Pangeran Sido ing Kenayan dan Depati Karang Udara di Palembang untuk menetapkan atau membagi tapak watas (tapal batas) wilayah kekuasaan antara Besemah dengan Palembang. Itulah pembagian tapal batas pertama antara wilayah kekuasaan Jagat Besemah dengan negeri Palembang. Moyang asal atau cakal-bakal Palembang adalah saudara tua perempuan (kakak perempuan) dari cakal-bakal Jagat Besemah itu sendiri. Cakal-bakal Palembang itu sendiri adalah Puteri Sandang Biduk, kakak perempuan Atung Bungsu.
Silah-silah Ratu Singe Bekurung adalah Singe Bekurung anak Sake Sepadi anak Mandulike anak Pedane anak Cendane anak Indere Telage Mukse anak Indere Mukse anak Indere Sakti anak Diwe Diwate anak Atung Bungsu. Jadi Ratu Singe Bekurung adalah penguasa Besemah ke-10.
Sesuai dengan perjalanan waktu, sumbay-sumbay berkembangbiak, sehingga menyebar di seluruh wilayah yang kini bernama Kota Pagaralam, Kabupaten Lahat, sebagian Kabupaten Empat Lawang, sebagian Kabupaten Muaraenim, sebagian Kabupaten Ogan Komering Ulu, sebagian kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (Provinsi Sumatera Selatan), sebagian Kabupaten Bengkulu Selatan, sebagian Kabupaten Kaur, sebagian Kabupaten Seluma (Provinsi Bengkulu); sebagian Kabupaten Lampung Selatan, dan sebagian Kabupaten Lampung Utara (Provinsi Lampung).
Sementara itu, diperkirakan pada abad ke-16 di bagian ilir Tanah Besemah (Besemah Ilir yang kemudian disebut juga Lematang Ulu) telah menetap anak-cucu atau keturunan Diwe Gumay dari Bukit Seguntang. Keturunan Diwe Gumay yang mulai menapaki Tanah Besemah bagian ilir itu adalah puyang Panjang Remajang Sakti (Juray Kebalik-an XII) yang menjadikan Marga Gumay Lembak di Besemah Ilir itu. Puyang Panjang Remajang Sakti adalah anak dari Diwe Suke Milung alias Radin Simbang Gumay (Juray Kebalik-an XI). Puyang Panjang Remajang Sakti berkedudukan di Buntar (Lubuk-sepang). Puyang Panjang Remajang Sakti mempunyai dua anak, yakni Puyang Muke Aghahan (Juray Kebalik-an XIII) dan Puyang Yal Bingkuk cakal-bakal Marga Gumay Ulu di dusun Mekam yang bernama dusun Lubay. Puyang Muke Aghahan (Juray Kebalik-an XIII) mempunyai 8 anak. Anak yang kedua adalah Puyang Tuwan Gune Raje yang menjadi Juray Kebalik-an XIV, berkedudukan di dusun Ndikat, cakal-bakal Marga Gumay Talang (kini Kecamatan Gumay Talang). Ketiga rurah (daerah) Gumay itulah Gumay Tige Junghu di tanah Besemah bagian ilir sebelum daerah itu direcak, dicencang-cencang (dipecah-belah) oleh kolonial Belanda dengan politik devide et impera-nya.
Lampik Mpat Mardike Duwe sebagai lembaga hukum dan lembaga perwakilan/permusyawaratan mempunyai tempat-tempat bersidang, baik untuk tingkat pusat (Jagat Besemah) maupun untuk tingkat daerah (rurah-rurah). Tempat-tempat sidang Lampik Mpat Mardike Duwe ada yang bersifat tetap (permanen) dan ada yang bersifat tidak tetap (insidentil).
Bangunan tempat sidang Lampik Mpat Mardike Duwe dinamakan Balay Besak (Balai Besar), karena yang hadir dalam sidang adalah para juray-tuwe dari enam sumbay. Apabila bangunan tempat sidang itu hanya digunakan untuk musyawarah adat oleh satu sumbay tempat bangunan itu berada, maka sebutannya bukan balay besak (Soim K, 1989:24). Khusus untuk sidang Gumay (di luar Lampik Mpat Mardike Duwe) yang dipimpin oleh Juray Kebalik-an, tempat sidangnya dinamakan Balay Buntar, di dusun Lubuk sepang. Sisa Balay Buntar itu masih dapat dilihat sampai sekarang di dusun Lubuk sepang.
Balay Besak tempat sidang Lampik Mpat Mardike Duwe dan tempat musyawarah adat bagi sumbay-sumbay itu adalah (1) balay Sumbay Ulu Lurah di Padurakse, kemudian dipindahkan ke Benuwakeling (2) balay Sumbay Besak di Tanjung-menang, Lubuk-buntak (3) balay sumbay Mangku Anum di Jambat-akagh (4) balay Sumbay Tanjung Ghaye di Gelungsakti (5) balay Sumbay Penjalang di Cagaragung (Pagaragung) kemudian dipindahkan ke Meringang; (6) balay Sumbay Semidang di Tebat-salak. Tiap suku(subsumbay) juga memiliki balay, seperti balay di Kute-ghaye (Kuta-raya)
Besemah dikuasai atau dijajah secara penuh oleh Belanda sejak 1868, dan administrasi pemerintahan kolonial Belanda mulai resmi ada tahun 1869, tepatnya tanggal 20 Mei 1869, yang kini dijadikan hari jadi Kabupaten Lahat. Daerah Besemah Ulu Manak telah lebih dulu dimasukkan ke dalam wilayah administrasi pemerintahan Inggris di Bengkulu (1818). Antara 1868 hingga 1948, terjadi berkali-kali perubahan peraturan kolonial tentang marga di wilayah yang dikuasainya. Perubahan-perubahan tentang marga itu terjadi pada tahun 1870, 1883, 1904, 1906, 1925, 1932, 1939, 1940, 1946, dan 1948.
Sejak Besemah dijajah Belanda, sumbay-sumbay dipecah-pecah, dijadikan marga-marga teritorial, dipisah-pisah ke dalam wilayah administrasi pemerintahan kolonial yang diberi nama-nama baru. Hal yang paling mengesankan adalah seolah-olah penduduk dan wilayah itu bukan Besemah, seperti komitmen yang sudah disepakati oleh Ratu Singe Bekurung dengan Ratu Sinuhun dan Pangeran Sido ing Kenayan pada awal abad ke-17. Sebagian kecil wilayah yang sudah “dibantai” dengan pisau devide et impera itu diberi nama Onderafdeeling Pasemah-landen yang kemudian menjelma menjadi Kewedanaan Tanah Pasemah. Akhirnya, Kewedanaan Tanah Pasemah menjadi Wilayah Pembantu Bupati Wilayah II Pagaralam. Jadi, secara kultur-historis dan etnolinguistik, wilayah itu hanyalah bagian dari Besemah yang pernah ada dan pernah jaya, bukan lagi Besemah seutuhnya.
Enam sumbay dalam Jagat Besemah itu meliputi dusun-dusun yang tersebar di berbagai rurah (daerah) yang berbeda. Dusun-dusun itu dipersatukan secara genealogis ke dalam sumbay masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: