Asal-muasal Pengetahuan Manusia

1.Asal Muasal Pengetahuan Manusia

  1. Aliran Empirisme :


Paham ini mementingkan pengalaman indera. Pengetahuan diperoleh lewat pengalaman indera. Seluruh pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan dan membandingkan gagasan-gagasan yang diperoleh dari penginderaan serta refleksinya. Akal manusia hanya merupakan tempat penampungan yang secara pasif menerima hasil pengeinderan kita.
Gejala-gejala alamiah menurut anggapan kaum empiris adalah bersifat konkret dan diungkap lewat penginderaan gejala bila ditelaah lanjut akan menghasilkan pola yang teratur mengenai kejadian tertentu. Dengan mengumpulkan pengalaman, kita akan bisa melihat kesamaan dan perbedaan gejala yang ada, yang selanjutnya menjadi pengetahuan.

Namun demikian, sebagian orang menganggap bahwa Empirisme tidak dapat memberikan kepastian, paling jauh aliran ini hanya memberikan kesimpulan dengan peluang yang tinggi.  Selain itu, Empirisme biasanya memberikan pemahaman yang bersifat parsial terhadap sesuatu yang universal

Tokoh terkenal dalam kelompok aliran empiris ini antara lain :

John Locke (1632-1704)

adalah seorang dokter yang berasal dari Inggris yang juga menjadi salah satu penasihat raja Inggris. Dalam berbicara sangat rigit dan berhati-hati, dan ungkapannya yang dikenal hingga saat “ Tidak ada sesuatu pada akal yang sebelumnya tidak ada pada indera kita”. Jadi, indera sebagai sesuatu hal yang primer, sedangkan akal sebagai hal yang sekunder yang fungsinya hanya sebagai penerima”
Dari ungkapanya menunjukkan bahwa John Lock menolak doktrin Rene Descartes “Doktrine of innate ideas”
Karya:
Essay Concerning Human Understanding. Esai yang berkenaan dengan pemahaman manusia (1690)

George Berckeley (1685-1753)

Adalah seorang pendeta, dilahirkan di Irlandia di wilayah Kilkeni. Kakek moyangnya berasal dari Inggris Protestan. Pada tahun 1707 diangkat menjadi wakil uskup Derry, kemudian setelah sepuluh tahun menjadi uskup Coloin, kemudian meninggal pada tahun 1753. Pikirannya lebih radical dibanding dengan John Locke, ucapannya sangat tegas à Esse est percipi”à ada karena diamati”
Karya:
A Treatise Concerning the participle of Human Knowledge.
Risalah mengenai Prinsip-prinsip Pengetahuan manusia [1790]

David Hume (1711-1776)

Hume mengatakan sesuai dengan ucapan Berckeley yakni “Esse est percipi”, mata saya menatap pada apa yang saya amati, kalimat inilah yang menunjukkan bahwa David saya terguh pendirianya, bahwa indera yang menuntun manusia menemukan pengetahuan.

Karya:
A Treatise Of Human Nature

Risalah Mengenai sifat Manusia selanjutnya direvisi pada tahun 1740 menjadi:

Enquiry Concerning Human Understanding.

Penelitian pemahaman atas manusia

INDUKSI:
Adalah penalaran dengan kesimpulan yang wilayahnya lebih luas daripada premisnya, sehingga merupakan cara berpikir dengan menarik simpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Keuntungan dari cara berpikir ini adalah mengkondisikan berlanjutnya penalaran, dan sangat ekonomis.
Contok induksi

Jika seseorang akan melakukan penelitian dengan menggunakan metode induksi, maka harus melalui tahapan-tahapan berikut:

  1. perumusana masalah: masalah yang hendak dicarikan penjelasan ilmiahnya.
  2. pengajuan hipotesis:mengajukan penjelasan yang masih bersifat sementara untuk diuji lebih lanjut melalui verifikasi
  3. pengambilan sample:pengumpulan data dari beberapa fakta particular yang dianggap bisa mewakili keseluruhan untuk keperluan penelitian lebih lanjut
  4. Verifikasi:pengamatan disertai pengukuran statistic untuk memberi landasan bagi hipotesa
  5. tesis: hipotesis yang telah terbukti kebenarannya.


b. Aliran Rasionalisme :

Faham rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal (ratio). Kebenaran dan kesesatan pada dasarnya terletak di dalam gagasan manusia, bukan di dalam diri barang sesuatu. Kebenaran hanya ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal saja. Pengalaman tidak diingkari, tetapi ia hanya sebagai perangsang pikiran. Descartes merupakan bapak rasionalisme yang berusaha menemukan kebenaran (pengetahuan) dengan menggunakan metode berpikir deduktif.
Seorang pengikut rasionalisme menggunakan pikir untuk memperoleh kebenaran-kebenaran yang harus dikenalnya, bahkan sebelum adanya pengalaman.

Akal manusia dapat mengetahui suatu kebenaran yang tidak mungkin dapat dijangkau melalui observasi.  Dengan Rasionalisme dapat juga diuji keberadaan hukum sebab-akibat dari banyak fenomena alam.

Tokoh terkenal dalam kelompok yang mewakili wilayah rasionalisme ini antara lain:

Rene Descartes

Adalah seorang-orang yang berasal dari Perancis, mendapatkan ajaran pada biara katholik. Descartes membangun system filsafati yang melibatkan metode penelitian, metafisika, fisika, dan biologi mekanistik.
Menurutnya, jika akan memulai harus ada pangkalmnyaà titik archimides. Pangkal yang yang dimaksud adalah pangkal pikir yang menyatakan “ Cogito ergo sum”, karena aku berpikir, jadi akau ada. Dengan demikian akal [berpikir] menjadi pangkal filsafatnya, oleh karenanya aliran ini dikenal rasionalisme.

Leibnitz.
Seorang Jerman yang pada usia 17 tahun telah menjadi sarjana, Teorinya menyatakan bahwa segala sesuatu itu terjadi dari monode, tidak ada hubungannya dengan luar, dan tidak mempunyai hubungan apa pun. Pengetahuan tidak berpangkal di luar diri kita, tetapi berpangkal pada diri kita sendiri, yaitu akal. Gagagasan cemerlangnya melahirkan doktrin “Doctrine of innate idea” [innate = dibawa sejak lahir]

Wolff.
Adalah seorang warga Jerman yang merupakan eksoponen dari aliran rasionalisme. Ia adalah seorang guru besar yang menyebarkan pokok-pokok pikiran rasionalis. Kita dapat memperoleh pengetahuan atas dasar rasio, terlepas dari pengalaman. Apa yang dikatakan rasio itulah yang benar. Dengan tegas menyatakan bahwa pengetahuan kita senantiasa berdasarkan innate ideas yang bersumber pada diri kita dan berpangkal dari rasio kita.

DEDUKSI  diberi batasan sebagai penalaran dengan simpulan yang lebih sempit daripada wilayah premisnya. Cara kerja deduksi berpikir di mana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. SILOGISMUS
Bagaimana kata akhir pertentangan antara Rasionalisme dengan Empirisme?
Perang pikir antara Empirisme dan Rasionalisme, ternyata dipadamkan oleh faham “fenomenalisme” ajaran Immanuel Kant [1724-18-04]. Oleh karenanya ia dianggap mendamaikan pertentangan antara rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme mementingkan unsur “apriori” dalam pengenalan, terlepas dari segala pengalaman. Empirisme menekankan unsur-unsur “Aposteriori”, yang berarti unsur yang berasal dari pengalaman.
Menurut Kant keduanya berat sebelah. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa pengetahuan manusia merupakan paduan atau sintesis antara unsur-unsur apriori dan unsur aposteriori. Dari sintesis tersebut dapat dirumuskan beragam yang lengkap baik secara empiris maupun dilandasi penalaran yang logis dan dapat lebih jelas dirumuskan kaitan [sebab-akibat] dari suatu gejala yang terjadi di alam ini.

Simpulan :

  • Akhirnya Aristoteles menggabungkan antara Aprori dan Aposteriori.
  • Munculnya faham fenomenalisme ajaran Immanuel Kant [1724-1804] yang mendamaikan pertentangan antara rasionalisme dan empirisme. Faham ini menjelaskan bahwa pengetahuan manusia merupakan paduan atau sintesa antara unsure-unsur apriori dan aposteriori. Dari sintesa tersebut dapat dirumuskan secara holistic baik secara empiris yang juga dilandasai penalaran logis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: