Sriwijaya dari Pagaralam

MISTERI RIMBA CANDI DI PAGARALAM

Oleh

Yudi Herpansi

 

Berdasarkan penuturan Bapak Imron, asal desa Sukurte kecamatan Pajarbulan Kabupaten Lahat yang kini bermukim di perumnas Guppi Nendagung Pagaralam. Beliau adalah Pensiunan PNS guru di Pagaralam. Kisah ini dituturkan kepada saya pada pada tanggal 21 – 22 Mei 2009.

Dikisahkan, pada tahun 2000, ketika beliau ditugasi mendampingi proses seleksi peserta Jambore Nasional yang akan mewakili Kota Pagaralam, yang mana pesertanya adalah siswa SD. Di tengah kegiatan, salah seorang peserta mengalami kesurupan. Dalam kondisi kesurupan tersebut, siswa tersebut dirasuki oleh roh halus yang mengaku bernama Kyai Soebroto yang berasal dari Mataram.

Dikisahkan oleh Kyai Soebroto, bahwa kedatangannya didampingi Nyai Soebroto beserta para pengikutnya ke wilayah Besemah adalah untuk menyebarkan agama Islam. Karena waktu itu di Besemah belum beragama Islam. Kedatangan rombongan tersebut melalui jalur Bengkulu, mereka mendarat di teluk Manak terus menyusuri daratan yang akhirnya tiba di sebuah kerajaan yang penduduknya belum beragama islam. Digambarkan bahwa kerajaan tersebut memiliki istana yang megah. Kedatangan rombongan yang dipimpin oleh Kyai Soebroto tersebut tidak disambut dengan ramah, sehingga rombongan tersebut semuanya di bantai dengan keji oleh pihak kerajaan. Dalam kondisi khawatir akan datang serangan dari Mataram, maka Kyai soebroto beserta pengikutnya dikubur di bawah istana kerajaan. Begitu juga dengan istana beserta semua harta kekayaannya, mereka tenggelamkan secara gaib di perut bumi, sementara penghuni kerajaan pindah ke tempat lain.

Dikisahkan bahwa istana yang sudah dibenamkan ke bumi tersebut, lokasinya berada di desa Rimba Candi Pagaralam. Untuk dapat mengungkap keberadaan istana kerajaan yang telah ditenggelamkan tersebut, kyai Soebroto menyebutkan beberapa syarat yang harus dipenuhi. Pertama, kayu cendana asli gunung Dempo, kedua, melati asli gunung Dempo dan ketiga, sorban Kyai Soebroto yang ditanam di kaki gunung Krakatau.

Berbekal keterangan dari Kyai Soebroto melalui anak yang kesurupan tersebut, maka narasumber membentuk tim yang berjumlah 9 orang untuk melaksanakan pesan dan mengumpulkan syarat yang diminta. Berdasarkan panduan dari kyai Burhan dari Banten, maka tim 9 mulai mengumpulkan syarat-syart tersebut. Keanehan terjadi ketika tim mendaki gunung Dempo, biasanya puncak Dempo bisa dicapai setelah melakukan perjalanan selama 9 – 12 jam. Tim 9 hanya membutuhkan waktu 2 jam untuk mencapai puncak tersebut, setelah sampai di puncak rombongan langsung mencari cendana dan melati asli Dempo tersebut yang secara irasional juga dengan mudah mereka temukan. Setelah mengambil cendana dan melati seperlunya, secara gaib pula kedua syarat tersebut hilang dari pandangan tim 9.

Sekembali tim 9 dari puncak Dempo, mereka langsung melakukan ritual di kawasan Rimba Candi, malam harinya mereka terus melakukan ritual dengan membaca ayat-ayat suci al qur’an yang jumlahnya juga telah ditetapkan serta diharuskan berpakaian serba putih. Ketika pembacaan ayat-ayat suci tersebut hampir selesai, secara gaib pula muncul sinar keemasan di tengah malam yang tingginya sekitar 100-200 meter, sinar keemasan tersebut secara perlahan-lahan membentuk sebuah istana kerajaan yang semua menaranya dilapisi oleh emas. Belum genap hitungan pembacaan ayat-ayat suci tadi, salah seorang dari tim 9 langsung memberitahu anggota yang lain bahwa ia sudah melihat kenampakan candinya. Secara serentak tim 9 melihat ke arah yang dimaksud, dengan demikian secara tidak disengaja pembacaan ayat-ayat tadi yang semestinya hanya menyisakan sedikit bacaan saja terhenti. Dengan terhentinya pembacaan ayat-ayat tadi, secara perlahan tapi pasti sinar keemasan yang sudah membentuk sebuah istana kerajaan tadi hilang kembali.

Menjelang subuh, tim 9 sudah bersiap-siap untuk melanjutkan ritual lainnya, yaitu menuju sebuah goa, yang di dindingnya penuh bertuliskan askara arab melayu. Tetapi sebelum tim berangkat menuju goa, rombongan dikejutkan oleh kedatangan 2 orang peserta yang masih kecil. Ternyata mereka mendahului tim 9 menuju lokasi yang memang sudah ditandai oleh tim 9. Menurut keterangan mereka, bahwa mereka pada jam 3 malam menuju lokasi tersebut, sesampainya di lokasi mereka menemukan menara candi yang sudah mulai muncul ke permukaan tanah. Menara tersebut terbuat dari emas dan mereka telah memegangnya. Berhubung mereka tidak memiliki alat untuk menggalinya, mereka berdua memutuskan kembali ke posko dan menemui tim 9. Bersama tim yang lainnya mereka menuju ke lokasi penemuan tadi dengan membawa peralatan seperti cangkul dan linggis, sesampai di lokasi mereka hanya menemui hutan di tengah kegelapan. Apa yang telah ditemukan dan diyakini bukan mimpi tersebut tidak ada tanda-tanda sama sekali.

Tim akhirnya memutuskan menuju ke goa yang dimaksud, sesampainya di goa, secara gaib pula dinding goa mulai menampakkan tulisan yang beraksara arab melayu. Ternyata informasi yang disampaikan oleh aksara arab melayu tersebut tidak ada yang bisa membacanya, sehingga saran gaib dari Kyai Soebroto bahwa anak yang kesurupan tersebut setamat dari SD harus melanjutkan pendidikan ke pesantren dulu, baru bisa membaca aksara tersebut.

Diakhir cerita, mungkin karena pengaruh jaman, maka si anak yang tadi dianjurkan melanjutkan pendidikan ke pesantren tidak terpenuhi, sementara anggota tim 9 sekarang juga sudah berkurang dan kyai Burhan juga sudah meninggal. Secara otomatis juga usaha dari tim 9 untuk mengungkap misteri Rimba Candi terhenti. Tetapi satu pesan yang ditinggalkan oleh Kyai Soebroto, bahwa misteri ini akan terungkap apabila Besemah diperintah oleh pemerintahan yang adil, bijaksana yang membawa kemakmuran bagi rakyatnya. Misteri ini akan terungkap melalui bencana alam. Nauzubilah.

Mungkin cerita inilah yang mengilhami Pemerintah Kota Pagaralam mengadakan serangkaian kegiatan yang berkaitan dengan pengungkapan misteri ini. Antara lain telah mengadakan seminar nasional dengan tema Peradaban Besemah Sebagai Pendahulu Kerajaan Sriwijaya. Apakah misteri ini akan terungkap atau hanya mistik belaka, kita tunggu perkembangannya. Yang jelas apakah cerita ini dapat diterima oleh para sejarawan, dan para arkeolog?. Tetapi yang pasti bahwa di Besemah banyak diketemukan peninggalan-peninggalan megalitikum. Apakah jaman megalitikum dapat dihubungkan dengan Kerajaan Sriwijaya serta apa hubungannya dengan misteri ini, walahualam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: