Hereditas

HEREDITAS DAN LINGKUNGAN

Oleh : Yudi Herpansi

 

  1. 1. Pendahuluan

Bila kita perhatikan kejadian-kejadian yang ada di sekitar kita maka akan tampak adanya kesamaan kejadian satu dengan kejadian lainnya, tetapi ada pula perbedaan kejadian satu dengan kejadian lainnya. Sama halnya manusia, manusia satu dengan manusia lainnya meskipun memiliki beberapa kesamaan (contoh, kesamaan bawaan atau lingkungan) tetapi masih saja terdapat perbedaan yang ditimbulkan.

Setiap manusia mempunyai pola pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda. Hal ini dapat dipengaruhi dari berbagai faktor, yaitu faktor dari dalam (faktor yang ada dalam diri manusia itu sendiri, faktor hereditas:bawaan/warisan) dan faktor luar (faktor lingkungan). Dengan faktor bawaan tertentu dan disertai dengan faktor lngkungan yang tertentu pula maka akan menghasilkan pola pertumbuhan dan perkembangan tertentu pula.

Masing-masing individu lahir ke dunia dengan suatu hereditas tertentu. Ini berarti bahwa, karakteristik individu diperoleh melalui pewarisan atau pemidahan dari cairan-cairan “germinal’ dari pihak orang tuanya. Di saming itu individu tumbuh dan berkembang tidak lepas dari lingkungannya, baik lingkungan fisik, lingkungan psikologi, maupun lingkungan social. Setiap pertumbuhan dan perkembangan yang kompleks merupakann hasil interaksi dari hereditas dan lingkungan.

Bagaimanakah pengaruh hereditas dan lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak? Maka dalam makalah ini Penulis berusaha membantu memberikan sedikit gambaran bagaimana hereditas dan lingkungan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak.

  1. 2. Hereditas dan Lingkungan

2.1. Faktor Hereditas

Setiap individu yang lahir ke dunia dengan suatu hereditas tertentu. Hereditas pada individu merupakan bawaan sejak lahir “specific genen. Bawaan/warisan atau hereditas tersebut berasal dari kedua orang tuanya (Genes) dan tidak dapat direkayasa. Bawaan memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Ia lahir membawa berbagai agam warisan yang berasal dari kedua ibu-bapak atau kakek-nenek.

Warisan atau turunan  tersebut yang terpenting, antara lain: bentuk tubuh, raut muka, warna kulit, intelegensi, bakat, sifat-sifat, dan penyakit.

Bentuk Tubuh dan Warna Kulit

Salah satu warisan yang dibawa oleh anak sejak lahir adalah mengenai bentuk tubuh dan warna kulit. Misalnya ada anak yang memiliki bentuk tubuh gemuk seperti ibunya, wajah seperti bapaknya, rambut kering dan warna kulit putih seperti ibunya. Bila anak yang pembawaan gemuk seperti ini, bagaimanapun susah hidupnya nanti,ia sukar menjadi kurus, tetapi sebaliknya sedikit saja ia makan, akan mudah menjadi gemuk. Demikian juga rambut keriting, bagaimanapun berusaha untuk meluruskannya akhirnya akan kembali menjadi keriting.

 

Sifat-Sifat

Sifat-sifat yang dimiliki oleh seseorang adalah salah satu aspek yang diwarisi dari ibu, ayah, atau kakek dan nenek. Bermacam-macam sifat yang dimiliki manusia, misalnya: Penyabar, pemarah, kikir, pemboros,hemat dan lain sebagainya.

Sifat-sifat tersebut dibawa manusia sejak lahir. Ada yang dapat dilihat atau diketahui selagi kecil dan ada pula yang diketahui sesudah ia besar. Misalnya sifat keras (pelawan atau bandel) sudah dapat dilihat sewaktu anak masih berumur kurang dari satu tahun, sedangkan sifat pemarah baru dapat diketahui setelah anak lancer berbicara, yaitu sekitar 5 tahun.

Sifat atau tabiat berbeda dengan kebiasaan. Sifat sangat sukar diubah, sedangkan kebiasaan dapat diubah setiap saat bila dikehendaki dengan sungguh-sungguh. Kebiasaan meminum minuman keras, mabuk, main judi, dan sebagainya bisa diubah dan dibuang dari diri seseorang.

Demikian pula dengan kebiasaan merokok, lambat bagun pagi, tidur siang, malas, dan sebagainya. Semuanya dapat diubah dan tukar dengan kebiasaan yang baik, seperti: rajin, lincah, cepat bangun, jujur,, suka menolong dan sebaginya.

Sifat dan kebiasaan merupakan corak (warna) dari kepribadian seseorang atau suatu sku bangsa. Misalkan, suku Jawa memiliki sifat ramah, lucu, lugu dan sebagainya. Kebiasaan memakai kebaya dan kain batik oleh kaum  wanitanya. Orang Barat, memiliki sifat sombong (tidak ramah), dinamis, suka berterus terang, dan sebagainya. Sementara kebiasaan mereka selalu jalan bergegas, disiplin waktu, dan sebagainya.

Mengetahui sifat atau watak anak mendalam, akan membantu guru untuk mendidiknya. Misalnya, anak yang penakut perlu dibangkitkan semangatnya agar menjadi berani mengemukakan pendapatnya. Demikian pula dengan anak yang merasa minder, perlu dibangkitkan rasa harga dirinya agar jiwanya  tidak semakin tertekan.

Intelegensi

Istilah intelegensi berasal dari kata Latin intelligence yang berarti menghubungankan atau menyatukan satu sama lain(­to organize, to relate, to bind together) (Walgoti,1997).

Intelegensi menurut David Wechler (1958) didefinisikan sebagai “Keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif”.

Intelegensi adalah kemampuan yang bersifat umum untuk mengadakan penyesuaian terhadap suatu situasi atau masalah. Kemampuan yang bersifat umum tersebut meliputi berbagai jenis kemampuan psikis seperti: abstrak, berpikir mekanis, matematis, memahami, mengingat, berbahasa dan sebagainya.

Sebagai contoh yang dapat diambil, contoh seorang anak kecil berumur empat tahun sedang bermain di taman bunga. Ia melihat bunga-bunga berwarna-warni, lari mengejar kupu-kupu, mencium bunga-bunga itu, dan sebagainya. Tindakan-tindakan itu masih berkadar intelegensi yang rendah karena unsure rasionya juga rendah. Akan tetapi anak yang lebih besar, misalnya sudah berumur tujuh tahun, ia menghitung berapa macam bunga yang ada di taman itu dan apa saja warnanya. Tindakan kedua ini sudah lebih berintelegensi daripada yang pertama. Anak yang sudah SMP mungkin sudah dapat menyebutkan warna bunga-bunga itu satu per satu, mengetahui golongan rumpun apa berikut nama Latin mereka. Sementara itu, seorang insinyur pertanian mampu mengadakan perkawinan  silang antara bunga-bunga tersebut.

Intelegensi seseorang dapat diketahui secara lebih tepat dengan menggunakan tes intelegensi. Ukuran intelegensi dinyatakan dalam IQ (Intelligence Quotient).

 

Bakat

Bakat adalah kemampuan khusus yang menonjol di antara berbagai jenis kemampuan yang dimiliki seseorang. Kemampuan khusus itu biasanya berbentuk keterampilan atau suatu bidang ilmu, misalnya kemampuan khusus (bakat) dalam bidang seni musik, seni suara, olahraga, matematika, bahasa, ekonomi, teknik, keguruan, social, agama, dan sebagainya. Seseorang umumnya memiliki bakat tertentu yang terdiri dari satu atau lebih kemampuan khusus yang menonjol dari bidang lainnya. Tetapi ada juga yang tidak memiliki bakat sama sekali, artinya dalam semua bidang ilmu dan keterampilan dia lemah atau sedang. Ada pula sebagian orang memiliki bakat serba ada, artinya hamper semua bidang ilmu dan ketrampilan, dia mampu dan menonjil. Orang seperti itu tergolong istimewa dan sanggup hidup di mana saja.

Bakat  sebagaimana halnya dengan intelegensi merupakan warisan dari orang tua, nenek, kakek dari pihak ibu dan bapak. Warisan dapat dipupuk dan dikembangkan denganbermacam cara terutama dengan pelatihan dan didukung dana yang memadai. Seseorang yang memiliki bakat tertentu sejak kecilnya, namun tidak memperoleh kesempatan untuk mengembangkannya sebab tidak memiliki dana untuk latihan, maka bakatnya tidak dapat berkembang. Hal seperti ini dikatakan  bakat terpendam.

Pada umumnya anak-anak mempunyai bakat dapat diketahui orang tuanya dengan memperhatikantingkah laku dan kegiatannya sejak dari kecil. Biasanya anak memiliki bakat dalam suatu bidang, dia akan gemar sekali melakukan atau membicarakan bidang tersebut.

Di sekolah, para guru dapat mengetahui, apakah muridnya memiliki bakat atau tidak, dengan melihat rapornya. Bila memiliki nilai yang istimewa (9-10) dalam suatu mata pelajaran tertentu, berarti anak memiliki bakat pada mata pelajaran tersebut.

 

Penyakit

Beberapa penyakit bisa berasal dari turunan, seperti penyakit kebutaan, syraf, dan luka sulit kering (darah keluar terus, hemopili).

Penyakit yang dibawa sejak lahir akan terus mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak.

2.2. Faktor Lingkungan

Lingkungan sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Lingkungan adalah keluarga yang mengasuh dan membesarkan anak, sekolah tempat mendidik, masyarakat tempat anak bergaul juga bermain sehari-hari dan keadaan sekitar dengan iklimnya, flora dan faunanya.

Besar kecilnya pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangannya bergantung pada keadaan lingkungan anak itu sendiri serta jasmani dan rohaninya.

  1. a. Keluarga

Keluarga, tempat anak diasuh dan dibesarkan, berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangannya, terutama keadaan ekonomi rumah tangga serta tingkat kemampuan orangtua dalam merawat yang sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan jasmani anak. Sementara tingkat pendidikan orang tua juga besar pengaruhnya terhadap perkembangan rohaniah anak, terutama kepribadian dan kemajuan pendidikannya.

Anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang mapan, umumnya sehat dan cepat pertumbuhan badannya dibandingkan dengan anak dari keluarga yang tidak mampu. Demikian pula anak yang orang tuanya berpendidikan akan menghasilkan anak yang berpendidikan pula.

 

  1. b. Sekolah

Sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak terutama untuk kecerdasannya. Anak yang tidak pernah sekolah akan tertinggal dalam berbagai hal. Sekolah sangat berperan dalam meningkatkan pola pikir anak, karena di sekolah mereka dapat belajar bermacam-macam ilmu pengetahuan. Tinggi rendahnya pendidikan dan jenis sekolahnya turut menentukan pola pikir serta kepribadian anak.

Anak yang memasuki sekolah guru berbeda kepribadiannya dengan anak yang masuk STM. Demikian pula yang tamat dari sekolah tinggi akan berbeda pola pikirnya dengan orang yang tidak bersekolah.

  1. c. Masyarakat

Masyarakat adalah lingkungan tempat tinggal anak. Mereka juga termasuk teman-teman anak di luar sekolah. Kondisi orang-orang di lingkungan desa atau kota tempat tinggal  anak juga turut mempengaruhi perkembangan jiwanya.

Anak-anak yang dibesarkan di kota berbeda pola pikirnya dengan anak yang tinggal di desa. Anak kota umumnya lebih bersikap dinamis dan aktif bila dibandingkan anak desa yang cenderung bersikap statis dan lamban. Semua perbedaan sikap dan pola pikir di atas adalah akibat pengaruh dari lingkungan masyarakat yang berbeda antara kota dan desa.

  1. d. Keadaan Alam sekitar

Kedaan alam sekitar tempat tinggal anak juga berpengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Alam tempat tinggal manusia memiliki bentuk yang berbeda, seperti pegunungan, dataran rendah dan daerah pantai. Keadaan alam sekitar adalah lokasi tempat anak bertempat tinggal. Sebagai contoh, anak yang tinggal di daerah pegunungan akan cenderung bersifat lebih keras daripada anak yang tinggal di daerah pantai, anak yang tinggal di daerah dingin akan berbeda dengan anak yang tinggal di daerah panas. Perbedaan di atas adalah akibat pengaruh keadan alam yang berbeda. Keadaan alam yang berbeda akan berpengaruh terhadap perkembangan pola pikir atau kejiwaan anak.

Lingkungan sangat besar artinya bagi setiap pertumbuhan fisik. Sejak individu berada dalam konsepsi, lingkungan telah ikut memberi andil bagi proses pembuahan/pertumbuhan. Suhu, makanan, keadaan gizi, vitamin, mineral, kesehatan jasmani, aktivitas dan sebagainya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan. Klasifikasi tingkah laku manusia dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu, insting, habits, native behavior, dan acquired behavior.

 

Hubungan antara Hereditas dan Lingkungan

Antara hereditas dan lingkungan terjadi hubungan atau interaksi. Setiap faktor hereditas beroperasi dengan cara yang berbeda-beda menurut kondisi dan keadaan lingkungan yang berbeda-beda pula. Selain dengan interaksi, hubungan antara hereditas dan lingkungan dapat pula digambarkan sebagai additive contribution. Menurut pandangan ini, hereditas dan lingkungan sama-sama menyumbang bagi pertumbuhan dan perkembangan fisiologi dan bahkan juga tingkah laku individu secara jointly (bersama-sama). Pertumbuhan dan perkembangan memerlukan kondisi kesehatan jasmani dan rohani anak.

2.3. Pendapat Para Ahli tentang Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak

Dalam menetukan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan siswa, para ahli berbeda pendapat karena sudut pandang dan pendekatan mereka terhadap eksistensi(keberadaan) siswa tidak sama. Berikut, aliran-aliran yang berhubungan dengan faktor-faktor perkembangan anak/siswa.

 

2.3.1. Aliran Nativisme

Nativisme (Nativism) adalah sebuah doktrin filosofi yang berpengaruh besar terhadap aliran pemikiran psikologi. Tokoh utama aliran ini bernama Arthur Scopenhauer (1788-1860) seorang filosof yang memandang segala sesuatu dengan kaca mata hitam.  Mengapa demikian? Karena para ahli penganut aliran ini berkeyakinan bahwa perkembangan manusia itu ditentukan oleh pembawaanya, sedangkan pengalaman dan pendidikan (lingkungan)tidak berpengaruh apa-apa. Dalam ilmu pendidikan, pandangan seperti ini disebut pesimisme paedagogis.

Sebagai contoh, jika sepasang orang tua ahli musik, maka anak-anak yang mereka lahirkan akan menjadi pemusik pula. Harimau pun hanya akan melahirkan harimau, tak akan pernah melahirkan anak domba. Jadi, pembawaan dan bakat orang tua selalu berpengaruh mutlak terhadap perkembangan kehidupan anak-anaknya.

Ambillah contoh sepasang suami-istri yang memiliki keistimewaan di bidang politik, tentu anaknya menjadi politikus pula. Namun, apabila lingkungan, khususnya lingkungan pendidikannya tidak mendukung, misalnya karena ia memasuki sekolah pertanian, sudah tentu ia tak akan pernah menjadi politisi, tetapi menjadi petani.

Aliran nativisme hingga saat ini masih berpengaruh di kalangan beberapa ahli, tetapi sudah tidak semutlak dulu lagi. Di antara ahli yang dipandang sebagai nativisme ialah Noam A. Chomsky kelahiran 1928, seorang ahli linguistik yang sangat terkenal saat ini. Chomsky menganggap bahwa perkembangan penguasaan bahasa pada manusia tidak dapat dijelaskan semata-mata oleh proses belajar, tetapi juga (yang lebih penting) oleh adanya biological predisposition (kecenderungan biologis) yang dibawa sejak lahir.

2.3.2. Aliran Empirisme

Kebalikan dari aliran nativisme adalah aliran empirisme (empiricism) dengan tokoh utama John Locke (1632-1704). Nama asli aliran ini adalah The School of British Empiricism (aliran empirisme Inggris).

Namun, aliran ini lebih berpengaruh terhadap para pemikir Amerika Serikat, sehingga melahirkan sebuah aliran filasafat bernama environmentalisme (aliran Lingkungan) dan psikologi bernama Environmental Psychology (psikologi lingkungan) yang relative masih baru. (Reber, 1988).

Doktrin aliran ini yang amat masyur adalah Tabula Rasa sebuah istilah bahasa latin yang berarti batu tulis kosong atau lembaran kosong (Blank slate/blank tablet). Doktrin tabula rasa menekankan arti penting pada pengalaman, lingkungan, dan pendidikan. Dalam arti perkembangan manusia semata-mata bergantung pada lingkungan dan pengalaman pendidikannya, sedangkan bakat dan pembawaan sejak lahir dianggap tidak ada pengaruhnya. Dalam hal ini, para penganut empirisme menganggap setiap anak lahir seperti tabula rasa, dalam keadaan kosong, tak punya kemampuan dan bakat apa-apa. Hendak menjadi apa seorang anak kelak bergantung pada pengalaman/lingkungan yang mendidiknya.

Jika seorang siswa memperoleh kesempatan yang memadai untuk mempelajari ilmu politik, tentu kelak ia akan menjadi sorang politisi. Karena ia memiliki pengalaman belajar di bidang politik, ia tak akan pernah menjadi pemusik, walaupun orang tuanya seorang pemusik sejati.

Memang sukar dipungkiri bahwa lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap proses perkembangan dan masa depan anak. Dalam hal ini, lingkungan keluarga (bukan bakat pembawaan dari keluarga) dan lingkungan masyarakat sekitar telah terbukti menentukan tinggi rendahnya mutu perilaku dan masa depan seorang anak.

Kondisi sebuah kelompok masyarakat yang berdomisili di kawasan kumuh dengan kemampuan ekonomi di bawah garis rata-rata dan tanpa fasilitas umum seperti masjid, sekolah, serta lapangan olahraga telah terbukti menjadi lahan yang subur bagi pertumbuhan anak-anak nakal. Anak-anak di lingkungan seperti ini memang tak mempunyai cukup alasan untuk tidak menjadi brutal, lebih-lebih apabila kedua orangtunya kurang atau tidak berpendidikan.

Faktor orang tua atau keluarga terutama sifat dan keadaan mereka sangat menetukan arah perkembangan masa depan para siswa yang mereka lahirkan. Sifat orang tua (parential trait) yang dimaksudkan ialah gaya khas dalam bersikap, memandang, memikirkan, dan memperlakukan anak. Contoh kelahiran bayi yang tidak dikehendaki (misalnya akibat pergaulan bebas) akan menimbulkan sikap dan perlakuan orang tua yang bersifat menolak (parental rejection). Sebaliknya, sikap orang tua yang terlalu melindungi anak juga dapat menggangu perkembangan anak. Perilaku memanjakan anak secara berlebihan ini, menurut hasil penelitian Chazen, et.al (1983) ternyata berhubungan erat dengan penyimpangan perilaku dan ketidakmampuan social anak di kemudian hari.

Namun demikian, perlu pula juga di kemukakan sebuah fakta yang ironis, yakni di antara para siswa yang dijuluki nakal dan brutal khususnya di kota-kota ternyata cukup banyak berasal dari kalangan keluarga berada, terpelajar, dan bahkan taat beragama. Sebaliknya, tidak sedikit anak pintar dan berakhlak baik yang lahir dari keluarga bodoh dan miskin. Jadi, sejauh manakah validitas doktrin empirisme yang telah memunculkan optimisme pedagogis itu dapat bertahan?

2.3.3. Aliran Konvergensi

Aliran konvergensi (convergence) merupakan gabungan antara aliran nativisme dan aliran empirisme. Aliran ini menggabungkan arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan manusia. Tokoh utama konvergensi bernama Louis William Stern (1871-1938), seorang filosof dan psikolog Jerman.

Aliran filsafat yang dipeloporinya disebut personalisme, sebuah pemikiran filosofi yang sangat berpengaruh terhadap disiplin-disiplin ilmu yang berkaitan dengan manusia. Di antara disiplin ilmu yang menggunakan asas personalisme adalah personologi yang mengembangkan teori yang komprehensif (luas dan lengkap) mengenai kepribadian manusia (Reber, 1988).

Dalam menetapkan faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia, Stern dan para ahli yang mengikutinya tidak hanya berpegang pada lingkungan/pengalaman dan juga tidak berpegangan pada pembawaan saja, tetapi berpegang pada kedua faktor tersebut yang sama pentingnya. Faktor pembawaan tidak akan berarti apa-apa jika tanpa faktor pengalaman. Demikian pula sebaliknya, faktor lingkungan tanpa faktor bakat pembawaan tak akan mampu mengembangkan manusia yang sesuai dengan harapan.

Para penganut aliran konvergensi berkeyakinan bahwa baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan memiliki andil sama besar dalam menentukan masa depan seseorang. Jadi, seorang siswa yang lahir dari keluarga santri atau kyai, umpamanya, kelak ia akan menjadi ahli agama apabila ia dididik di lingkungan keagamaan.

Untuk lebih kongkretnya, marilah kita ambil sebuah contoh lagi. Seorang anak yang normal pasti memiliki bakat untuk berdiri tegak di atas kedua kakinya. Tetapi apabila anak tersebut tidak hidup di lingkungan masyrakat manusia, misalnya kalau dia dibuang ke tengah hutan belantara dan tinggal bersama hewan, maka bakat berdiri yang ia miliki secara turun-menurun dari orang tuanya itu akan sulit diwujudkan. Jika anak tersebut diasuh oleh sekelompok serigala, tentu, ia akan berjalan di atas kedua kaki dan tangannya. Dia akan merangkak seperti serigala pula. Jadi, bakat dan pembawaan dalam hal ini jelas tidak ada pengaruhnya apabila lingkungan atau pengalaman tidak mengembangkannya.

Sampai sejauh manakah pengaruh pembawaan jika dibandingkan dengan lingkungan terhadap perkembangan massa depan seseorang? Jawabannya mungkin berbeda antara orang per orang. Sebagian orang mungkin lebih banyak ditentukan oleh faktor lingkungannya. Namun dalam hal pembawaan yang bersifat jasmaniah hampir dapat dipastikan bahwa semua orang sama, yakni akan memiliki berbentuk badan, mempunyai rambut dan mata  yang sama dengan kedua orang tuanya. Sebagai contoh anak-anak keturunan eropa umumnya berambut pirang, berkulit putih, bermata biru, dan berperawakan tinggi besar, karena memang warisan orang tua dan nenek moyangnya.

Akan tetapi, dalam hal pembawaan yang bersifat rohaniah sangat sulit kita kenali. Banyak orang yang ahli di bidang”X” tetapi anaknya ahli di bidang “Y”. anak ini sudah diusahakan agar mempelajri bidang “X” supaya sama dengan orangtuanya, tetapi ia menolaknya dan menunjukkan kecenderungan bakat “Y”. ternyata setelah mengikuti pengajaran bidang”Y”, anak yang berasal dari keturunan yang ahli di bidang “X” itu benar-benar ahli di bidang “Y”, bukan bidang “X”. apakah anak tersebut telah menyalahi bakat dan pembawaan keturunannya?

Banyak bukti menunjukkan,bahwa watak dan bakat seseorang yang tidak sama dengan orang tuanya itu, setelah ditelusuri ternyata watak dan bakat orang tersebut sama dengan kakek atau ayah/ibu kakeknya. Dengan demikian, tidak semua bakat dan watak diturunkan langsung pada anak-anaknya, tetapi mungkin kepada cucunya atau anak-anak cucunya. Alhasil, bakat dan watak dapat bersembunyi sampai beberapa generasi.

Hasil proses perkembangan seorang siswa dapat dijelaskan hanya dengan menyebutkan pembawaan dan lingkungan. Artinya, keberhasilan seorang siswa bukan karena pembawaan dan lingkungan saja, tetapi juga oleh diri siswa itu sendiri. Setiap orang, termasuk siswa tersebut, memiliki potensi self-direction dan self-discipline yang memungkinkan dirinya bebas memilih antara mengikuti atau menolak sesuatu (aturan atau stimulus) lingkungan tertentu yang hendak mengembangkan dirinya. Alhasil, siswa itu sendiri memiliki potensi psikologi tersendiri untuk mengembangkan bakat dan pembawaannya dalam konteks lingkungan tertentu.

Berdasarkan uraian mengenai aliran-aliran doktrin filosofi yang berhubungan dengan proses perkembangan di atas, penyusun berkesimpulan bahwa faktor yang mempengaruhi tinggi-rendahnya mutu hasil perkembangan siswa pada dasarnya terdiri atas dua macam.

  1. Faktor internal, yaitu faktor yang ada dalam diri siswa itu sendiri yang meliputi pembawaan dan potensi psikologi tertentu yang turut mengembangkan dirinya sendiri.
  2. Faktor eksternal, yaitu hal-hal yang datang atau ada di luar diri siswa yang meliputi lingkungan (khususnya pendidikan) dan pengalaman berinteraksi siswa tersebut dengan lingkungan.

  1. 3. Analisa

Pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor dalam (pembawaan) dan faktor luar (lingkungan). Setiap anak memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda satu sama lainnya. Anak dengan pembawaan yang sama akan memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda jika diberikan lingkungan yang berbeda. Anak yang memiliki pembawan yang berbeda akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang bisa sama bisa juga tidak, ini disesuaikan dengan lingkungan yang diberikan kepada anak.

Hal ini menunjukkan pentingnya pengaruh hereditas dan lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Keduanya tidak dapat berdiri dengan sendirinya, diperlukan lingkungan yang kondusif demi meningkatan/mewujudkan pembawaan.

Hereditas atau bawaan, oleh beberapa ahli, hereditas yang terpenting antara lain: bentuk tubuh, raut muka, warna kulit, intelegensi bakat, sifat-sifat atau watak dan penyakit. Anak dengan bawaan yang baik/bagus akan tumbuh dan berkembang jika diberikan lingkungan yang baik/bagus (sesuai dengan bakat anak) pula, baik itu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, maupun lingkungan alam sekitar.

Sebagai contoh anak dengan bawaan berupa bakat menyanyi. Pembawaan tersebut akan terwujud jika diberikan lingkungan berupa pengalaman dan latihan menyanyi, tentunya kelak si anak bisa menjadi penyanyi. Namun, jika tidak diberikan lingkungan, pendidikan, pengalaman berlatih menyanyi maka si anak tidak akan menjadi penyanyi, hanya memiliki bakat terpendam yaitu menyanyi.

Contoh lainnya, dua anak yang memiliki IQ yang sama belum tentu memiliki EQ yang sama. Karena IQ seseorang merupakan pengaruh faktor turunan (hereditas, tidak dapat direkayasa), sedangkan EQ merupakan faktor lingkungan (dapat dibentuk oleh lingkungan, pendidikan, dan pengalaman. Gambaran ini memberikan gambaran bahwa bawaan yang sama belum tentu menghasilkan gejala emosional yang sama. Hal ini terkait dengan pola pertumbuhan dan perkembangan  si anak.

Dari gambaran-gambaran di atas menjelaskan bahwa pembawaan dan lingkungan tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Keduanya memiliki pengaruh yang besar terhadap pola pertumbuhan dan perkembangan anak (sesuai dengan teori aliran konvergensi). Keduanya memiliki keterkaitan yang kuat, setiap hereditas beroperasi dengan cara berbeda-beda sesuai dengan kondisi lingkungan. Pembawaan tidak akan berarti apa-apa tanpa didukung dengan lingkungan yang kondusif terhadap bawaaan itu sendiri.

  1. 4. Kesimpulan

Dari uraian-uraian di atas, maka penulis dapat menyimpulkan beberapa hal yang terkait dengan faktor hereditas dan lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu sebagai berikut ini.

1)        Pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh faktor dalam (hereditas) dan faktor luar (lingkungan).

2)        Faktor internal, yaitu faktor yang ada dalam diri anak itu sendiri yang meliputi pembawaan dan potensi psikologi tertentu yang turut mengembangkan dirinya sendiri. Meliputi, antara lain: bentuk tubuh, raut muka, sifat-sifat, bakat, intelegensi dan penyakit.

3)        Faktor eksternal, yaitu hal-hal yang datang atau ada di luar diri anak yang meliputi lingkungan (khususnya pendidikan) dan pengalaman berinteraksi anak tersebut dengan lingkungan. Meliputi: Lingkungan (dapat berupa pendidikan dan pengalaman yang diberikan).

4)        Keduanya memiliki keterkaitan yang kuat, setiap hereditas beroperasi dengan cara berbeda-beda sesuai dengan kondisi lingkungan.

5)        Pembawaan tidak akan berarti apa-apa tanpa didukung dengan lingkungan yang kondusif terhadap bawaaan itu sendiri

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: